
……sambungan
Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang
TENTANG KETUHANAN
Bila kehilangan kasih sayang, terjadi gangsterism di kalangan anak-anak sekolah. Akibat tidak ada kasih sayang, perpecahan di antara partai politik dan sesama anggota partai makin kentara. Adakah ini dapat diubati dengan dengan kekayaan, nama dan glamour. Maknanya masalah kasih sayang ini tidak dapat diubati dengan kekayaan. Kalau kekayaan dapat mengubati manusia, tidak akan terjadi isteri lari, anak terlibat dadah dll. Kalaulah kekuasaan dapat menjalinkan kasih sayang, maka tidak akan terjadi pemerintah yang paling banyak berjasa, tapi rakyat benci. Inilah akibat masing-masing sudah kehilangan Tuhan.
2. KENALKAN TUHAN DULU BARU KENALKAN SYARIAT
Kita mesti mengenal Tuhan melalui ilmu . Cuba kita lihat sejarah Rasulullah SAW yang berjuang sebanyak 23 tahun, perjuangannya terbagi dua:
1. Memperjuangkan Tuhan selama 13 tahun.
2. Memperjuangkan syariat Tuhan selama 10 tahun.
Padahal Tuhan esa, sedangkan syariat Tuhan beribu banyaknya tapi masa yang diambil untuk memperjuangkan Tuhan lebih banyak. Sebab, apa erti berjuang bila tidak cinta Tuhan, apa erti solat, bila tidak cinta Tuhan. Apa erti menolong orang tua bila tidak cinta Tuhan. Padahal sayang lebih besar dari menolong. Sayang lebih besar daripada patuh.
Sebab itu kalau sembayang, puasa, naik haji dan lain-lain akan ditolak kalau dibuat tanpa cinta Tuhan. Apa ertinya bersyariat kalau tidak kenal tuhan dan kalau tidak ada hubungan dengn tuhan. Padahal syariat adalah yang menghubungkan dengan tuhan.
Disinilah kesalahan kebanyakan ulama, para mubaligh dan para pejuang, lebih banyak menceritakan tentang halal, haram. Masih banyak lagi masyarakat yang tidak shalat dan tidak faham tentang tuhan, tiba-tiba mereka hendak menegakkan hukum hudud. Sedangkan hudud ini dalam Islam kedudukannya dihujung. Akibatnya orang takut dengan Islam. Dia belum lagi suka dengan solat, tiba-tiba dikenalkan dengan potong tangan. Sebab itu orang takut.
Karena itu kenalkan dulu Tuhan baru syariat. Kalau sudah cinta dengan tuhan, jangankan solat, nyawa pun dia berikan. Inilah masalah umat Islam seluruh dunia. Banyak pejuang Islam di seluruh dunia, mengenalkan Islam dengan peperangan. Padahal Allah mengutus Rasulullah SAW untuk Islamkan orang, bukan untuk membunuh orang. Rasulullah SAW datang dengan kasih sayang, bukan membawa kebengisan.
Yang sebenarnya lebih baik pendekatan kita adalah untuk mengenalkan dan memberi kefahaman tentang takut dan cinta dengan Tuhan. Hari ini pendekatan para ulama, para pendakwah, pejuang-pejuang, pendekatannya Lebih banyak menceritakan syaraiat daripada menceritakan tuhan. Bila syariat banyak diceritakan, tentang Tuhan hanya sedikit saja, maka kalau ada orang yang dapat menegakkan syariat tapi syariat hanya menjadi ideologi. Akibatnya walaupun banyak solat, naik haji berulang kali tapi perangai tidak berubah. Mengapa solat tidak melahirkan akhlak mulia? Mengapa berjuang tidak melahirkan akhlak mulia? Pergi umrah, naik haji, belajar, baca quran, tidak melahirkan akhlak mulia? Mengapa tidak lahir? Sebab orang beribadah bukan karena mencintai Tuhan. Dia beribadah dan bersyariat tapi terputus dengan tuhan, sebab itu beribadah dengan terpaksa.
Setelah kejatuhan empayar Islam 700 tahun, orang hanya mengenalkan syariat saja. Tuhan tidak dikenalkan lagi. Kalaupun hendak mengenalkan Tuhan, hanya mengenalkan saja, tidak sampai rasa cinta, tidak sampai rasa takut, ini penyebabnya. Bahkan orang yang tidak kenal Tuhan, ketika beribadah jemu, maka untuk apa bersyariat.
Sedangkan kalau kita buat kerja untuk orang yang kita kasihi, tidak kenal letih, rasa senang. Susah pun tidak mengapa. Tapi kalau bekerja untuk orang yang bukan kita kasihi, betapa terseksa. Seperti kita buat kerja di pejabat, kita tidak suka dengan boss, betapa seksanya, hendak datang ke pejabat. Tapi kalau kita sayang dengan boss, kita buat kerja tak kenal letih. Begitulah kalau sudah kasih, menjalankan arahannya kita rasa senang, sedekah rasa senang, puasa, solat rasa senang. Kalau kita tidak sayang, maka solat pun tidak terasa indah, tidak rasa senang, sebab tidak kenal dengan Tuhan, tidak kenal dengan yang punya syariat, itu penyakitnya.
Kalau kita sayang dengan orang tua, maka kita tidak tunggu dia hendak beri makan/tidak, apakah dia akan memberi pakaian atau tidak, kita tetap rasa senang. Tetapi kalau kita tidak sayang dengan Tuhan, bila doa kita tidak dikabulkan, kita marah dengan Tuhan. Kita dapat melihat dalam keluarga, anak yang baik, walaupun orang tua tidak memberi, dia tak marah, tapi anak yang jahat, orang tua tidak memberi, dia marah.
Hamba yang baik, Tuhan tidak memberi, tidak apa-apa. Bagi dia, itu bukan satu masalah. Aku ingin berkhidmat dengan Tuhan. Kalau orang yang tak baik, ketika doanya tidak dikabulkan dia protes dengan Tuhan.
Yang sebenarnya kalau orang paham tentang Tuhan, maka yang lazat itu bukan ketika Dia memberi sesuatu, tapi berkhidmat dengan Allah itu yang lazat. Dapat kelazatan berkhidmat itu satu nikmat yang besar. Tapi itu tidak mudah, mesti betul-betul kenal dengan Tuhan. Kalau sekedar beriman saja, tidak akan mencapai taraf itu. Sekedar iman yang sah saja, baru sampai tahap asas. Dari kecil sampai besar iman sampai tahap asas saja, walaupun solatnya banyak, wiridnya banyak, tapi iman tidak berkembang. Sebab itu akhirnya jemu dengan ibadah. Lebih-lebih lagi kalau Tuhan uji, hati pun berkata aku sudah solat, sudah puasa, sudah wirid banyak, tapi Tuhan masih menguji.
Sebab itu para malaikat, walaupun ibadah tidak banyak, hanya satu saja tapi ibadahnya terasa lazat, mabuk, sebab dia kenal Tuhan. Walaupun ibadahnya hanya tasbih saja, tahmid saja tapi terasa lazat. Kalau sujud, sujud saja dia terasa lazat. Malaikat itu hanya satu saja ibadahnya, dia sudah terasa lazat dengan ibadahnya itu, tidak jemu.
Begitu juga dengan Nabi Adam, ketika dia berbuat kesalahan, dia rasa menyesal dan sujud selama 40 tahun, dia tak sadar sebab dia sudah terasa lazat dengan sujud itu.
Karena itu kalaulah kita dapat merasakan sebagaimana yang Tuhan firmankan, Tuhan bersama dengan hambaNYa, di mana saja berada. Maka di mana-mana kita merasakan Tuhan melihat, Tuhan mendengar, dimana saja. Tentu kita tidak akan terganggu dengan hal-hal lain.
Kalaulah kita ibaratkan ada harimau di depan kita, kita sedar di depan kita itu betul-betul harimau, dapatkah saat itu kita teringat makan, teringat isteri, teringat ingin ke pasar dan lain-lain. Tentu tidak dapat. Begitulah juga dengan Tuhan, kalau kita merasa Tuhan itu wujud, mendengar, melihat, maka apa saja tidak akan menganggu kita, seperti wang, pangkat, kekayaan, dan lain-lain.
Sebab itu roh mesti kita hidupkan selalu dengan Tuhan. Rasa bertuhan itu sangat penting, bukan hanya sekedar percaya saja dengan Tuhan.
…….bersambung

